
BELU UTARA — KomisiKepemudaanKA.org – Dekenat Belu Utara menggelar evaluasi pelaksanaan Ziarah Orang Muda Katolik (OMK) se-Dekenat Belu Utara yang sebelumnya berlangsung di Paroki Atapupu pada 28–29 Mei 2026. Evaluasi dilaksanakan di Aula Dekenat Belu Utara, Sabtu, 29 Agustus 2026, sebagai upaya membaca kembali proses pelaksanaan kegiatan sekaligus merumuskan langkah tindak lanjut agar pastoral orang muda tidak berhenti pada sebuah pertemuan besar, tetapi berkelanjutan dalam kehidupan OMK di paroki-paroki.

Pertemuan tersebut dihadiri Deken Belu Utara, Pengurus Dewan Pastoral Dekenat (DPD) Belu Utara ; Rm. Agustinus Seran Berek, Pr, para Moderator OMK, serta utusan OMK dari paroki-paroki se-Dekenat Belu Utara. Evaluasi dipandu Bapak Pius Seran selaku Penghubung Kepemudaan Dekenat Belu Utara. Kegiatan ziarah yang dievaluasi itu sebelumnya dilaksanakan dengan Bapak Edmundus sebagai Ketua Panitia.

Ket. Gambar : dari kiri ; Deken Belu Utara – Rm. Agus Seran Berek, Pr dan Rm. Goris Dudy, Pr – Pastor Paroki Atapupu
Pastor Paroki Atapupu, Rm. Goris Dudy, Pr, dalam sambutan pembuka mengatakan bahwa dirinya bersyukur karena Ziarah OMK se-Dekenat Belu Utara dapat berlangsung dengan baik. Sebagai pastor paroki yang menjadi tuan rumah kegiatan, ia melihat keberhasilan penyelenggaraan tersebut sebagai buah dari kerja sama banyak pihak, mulai dari tingkat dekenat, paroki, panitia, moderator, pengurus OMK hingga umat yang ikut mendukung berbagai kebutuhan kegiatan.
Namun, menurut Rm. Goris, keberhasilan sebuah kegiatan tingkat dekenat tidak boleh berhenti pada pelaksanaan kegiatan itu sendiri. Kegiatan bersama di tingkat dekenat seharusnya menjadi pemicu bagi tumbuhnya berbagai bentuk pendampingan dan aktivitas OMK di paroki masing-masing. Dengan demikian, pengalaman yang diperoleh dalam pertemuan besar dapat diterjemahkan menjadi gerakan yang lebih konkret setelah para peserta kembali ke komunitasnya.

Ket. Gambar : dari kiri ; Deken Belu Utara – Rm. Agus Seran Berek, Pr dan Rm. Goris Dudy, Pr – Pastor Paroki Atapupu
Deken Belu Utara, Rm. Agustinus Seran Berek, Pr, juga menegaskan bahwa kegiatan OMK merupakan kesempatan untuk memperkuat kehidupan rohani orang muda sekaligus mengembangkan berbagai aspek lain dalam kehidupan mereka. Karena itu, kegiatan-kegiatan OMK perlu berlangsung dalam suasana persaudaraan, sehingga orang muda mengalami Gereja bukan hanya sebagai tempat mengikuti acara, tetapi sebagai rumah tempat mereka diterima, bertumbuh dan mengambil bagian.
Dalam evaluasi tersebut, Rm. Agustinus menyoroti kreativitas orang muda yang terlihat secara khusus pada malam pentas seni. Menurut Mantan Pastor Paroki Naesleu ini, ketika OMK diberikan ruang, akan terlihat betapa besar kreativitas yang mereka miliki. Memang terdapat beberapa penampilan yang terkesan belum dipersiapkan secara maksimal, tetapi pengalaman itu tetap memiliki nilai pembinaan. Kesempatan tampil di hadapan publik menjadi ruang belajar bagi orang muda untuk membangun keberanian, kepercayaan diri, kemampuan bekerja sama dan mental tampil di tengah banyak orang.
Persoalan durasi kegiatan juga menjadi salah satu pokok evaluasi. Bapak Pius Seran menilai waktu pelaksanaan yang relatif singkat menyebabkan beberapa kegiatan penting belum dapat diakomodasi secara maksimal. Salah satunya adalah ruang sharing pengalaman hidup OMK. Padahal, perjumpaan orang muda tidak hanya penting dalam bentuk kegiatan bersama, tetapi juga dalam kesempatan untuk saling mendengarkan, berbagi pengalaman, mengenal kehidupan satu sama lain dan menemukan kekuatan dari pengalaman sesama.

Ket. Gambar : dari kiri ; Ketua Panitia – Bapak Edmundus dan Bapak Pius Seran – Penghujung Kepemudaan Dekenat Belu Utara
Menurut Bapak Pius, orang muda juga perlu terus dihimpun agar terbentuk militansi dan rasa memiliki terhadap Gereja. Pertemuan yang berlangsung secara teratur dapat membantu OMK membangun persaudaraan, saling mengenal dan menciptakan keakraban. Dengan adanya ruang yang cukup di dalam Gereja, orang muda diharapkan tidak mudah “lompat pagar” karena merasa tidak memiliki komunitas yang menerima dan melibatkan mereka.

Di sela-sela kegiatan evaluasi, hadir Sekretaris Komisi Kepemudaan Keuskupan Atambua, Rm. Yudel Neno, Pr. Ia mengapresiasi pelaksanaan Ziarah OMK se-Dekenat Belu Utara serta proses evaluasi yang dilakukan. Secara khusus, ia menyampaikan penghargaan kepada Deken Belu Utara, Rm. Agustinus Seran Berek, Pr, yang dinilainya terus memberikan ruang dan dukungan bagi perkembangan kegiatan orang muda di wilayah dekenat tersebut.
Dalam kesempatan itu, Rm. Yudel mengutarakan enam indikator capaian kegiatan orang muda yang disarikan dari semangat Christus Vivit, Dokumen Orang Muda, Iman dan Penegasan Panggilan, serta pemetaan pastoral Komisi Kepemudaan KWI. Keenam indikator tersebut menempatkan kegiatan orang muda sebagai perayaan iman, pengalaman Gereja, pengalaman misioner, kesempatan penegasan panggilan dan panggilan kepada kekudusan, peristiwa peziarahan, serta peristiwa persaudaraan insani universal.
Sebagai perayaan iman, kegiatan OMK hendaknya menghadirkan pewartaan, formasi, kesaksian, perayaan sakramen, doa, pujian dan berbagai ekspresi kreatif yang menumbuhkan iman. Sebagai pengalaman Gereja, orang muda perlu merasa menjadi bagian dari Gereja, didengarkan, diberi ruang berbagi dan dilibatkan secara aktif. Sebagai pengalaman misioner, OMK diajak keluar dari dirinya untuk menjumpai, mendengarkan, menghibur, berdoa dan bersaksi di tengah kehidupan sesama.
Kegiatan orang muda juga perlu menjadi ruang untuk membantu mereka mengenali panggilan hidup dan panggilan kepada kekudusan, baik dalam hidup berkeluarga, hidup bakti, imamat maupun berbagai bentuk pengabdian di tengah dunia. Sementara sebagai peristiwa peziarahan, orang muda diajak berjalan bersama menuju satu tujuan, keluar dari kenyamanan, mengalami perjuangan, kelelahan, sukacita serta perjumpaan dengan sesama dalam semangat sinodalitas. Pada saat yang sama, pertemuan OMK juga harus membuka pengalaman persaudaraan yang lebih luas, sehingga orang muda belajar berjumpa dengan berbagai kalangan dalam Gereja dan masyarakat.
Menurut Rm. Yudel, Ziarah OMK se-Dekenat Belu Utara merupakan implementasi yang sangat nyata dari indikator kegiatan orang muda sebagai peristiwa peziarahan. Kendati demikian, kegiatan ziarah tidak perlu berhenti pada satu indikator. Unsur peziarahan dapat dikolaborasikan dengan perayaan iman, pengalaman menggereja, pengalaman misioner, penegasan panggilan dan persaudaraan universal.
Kolaborasi antarelemen tersebut, menurut dia, berkaitan pula dengan waktu pelaksanaan kegiatan. Semakin banyak dimensi pastoral yang ingin dialami orang muda, semakin diperlukan pola kegiatan dan durasi yang memberi cukup ruang bagi proses. Namun, mengenai berapa lama kegiatan perlu dilaksanakan, hal itu menjadi bagian dari pertimbangan dan kebijakan pastoral Deken bersama para pastor paroki.
Dalam pembicaraan tentang kekhasan Ziarah OMK se-Dekenat Belu Utara, Rm. Yudel juga mengingatkan bahwa model kegiatan tersebut memiliki sejarah tersendiri. Kegiatan Ziarah OMK se-Dekenat Belu Utara pada awalnya diinisiasi oleh Rm. Maxi Alo Bria ketika menjabat sebagai Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Atambua. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi ruang perjumpaan, perjalanan iman dan persaudaraan bagi orang muda di wilayah Dekenat Belu Utara.
Pengalaman Belu Utara tersebut sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan kegiatan serupa di wilayah lain. Evaluasi ini turut memberikan perspektif bagi rencana pelaksanaan Ziarah OMK se-Dekenat Mena pada tahun mendatang, terutama mengenai pentingnya pola proses, keterlibatan orang muda, durasi kegiatan serta kesinambungan setelah kegiatan bersama selesai.
Pada bagian penutup evaluasi, Rm. Goris Dudy mengungkapkan kegembiraannya karena kegiatan yang telah berlangsung beberapa bulan sebelumnya tidak dibiarkan berlalu begitu saja, tetapi dibaca kembali melalui evaluasi bersama. Dari berbagai masukan yang muncul, ia menekankan perlunya pola proses dalam setiap kegiatan OMK.
Menurut Rm. Goris, pola proses menjadi landasan agar kegiatan tidak terasa membosankan. Kegiatan tidak cukup disusun sebagai kumpulan acara yang ditempatkan berurutan dalam sebuah jadwal. Setiap bagian hendaknya mempunyai hubungan dan membawa peserta melewati sebuah proses: datang dan berjumpa, mengalami kebersamaan, mendengarkan, berefleksi, merayakan iman, kemudian kembali ke komunitas dengan pengalaman dan tanggung jawab baru.
Deken Belu Utara dalam kata penutupnya menilai bahwa secara keseluruhan Ziarah OMK se-Dekenat Belu Utara telah berlangsung dengan sangat baik. Berbagai catatan yang muncul dalam evaluasi tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberhasilan kegiatan, tetapi menjadi bahan penyempurnaan. Ia berharap butir-butir rekomendasi yang dihasilkan dapat ditindaklanjuti dalam kegiatan pastoral OMK berikutnya.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada para pastor paroki se-Dekenat Belu Utara, secara khusus kepada Pastor Paroki Atapupu, Pengurus DPP, DKP serta para pengurus lingkungan di Paroki Atapupu yang telah terlibat dalam berbagai persiapan. Apresiasi juga disampaikan kepada para Moderator OMK se-Dekenat Belu Utara, pengurus OMK paroki-paroki, seluruh peserta Ziarah OMK serta para narasumber yang telah mengambil bagian dalam kegiatan pada 28–29 Mei 2026.
Evaluasi tersebut akhirnya menegaskan bahwa ukuran keberhasilan kegiatan orang muda tidak hanya terletak pada banyaknya peserta, kemeriahan acara atau selesainya seluruh agenda. Kegiatan OMK memperoleh makna pastoral ketika pengalaman yang diperoleh diteruskan menjadi proses pembinaan, keterlibatan dan perutusan di paroki masing-masing.
Dengan demikian, Ziarah OMK tidak berhenti ketika perjalanan selesai. Ziarah justru diharapkan melahirkan perjalanan berikutnya: orang muda yang semakin beriman, semakin merasa menjadi bagian dari Gereja, semakin berani terlibat, semakin kuat dalam persaudaraan, dan semakin siap menjadi pelaku pastoral di tengah komunitasnya. Di situlah kegiatan tingkat dekenat menemukan kesinambungannya dalam kehidupan Gereja: oleh orang muda, untuk orang muda, dan bersama orang muda.
oleh Rm. Yudel Neno, Pr