
Maumere — KomisiKepemudaanKA.com – Dalam seminar Orang Muda Katolik yang berlangsung di Aula Ritapiret, Maumere, Sabtu, 4 Juli 2026, dalam rangka Nusra Youth Day III, para peserta diajak untuk semakin kritis, sadar, dan bijaksana dalam menghadapi tantangan dunia digital.

Kegiatan Nusra Youth Day III sendiri berlangsung di Keuskupan Maumere sejak 1 Juli 2026 dan akan berakhir pada 5 Juli 2026. Seminar ini dihadiri oleh sekitar 800-an Orang Muda Katolik, bersama para Romo, para Uskup, dan sejumlah umat. Hadir pula dalam seminar tersebut Uskup Larantuka, Uskup Maumere, serta Uskup Agung Ende yang tampil sebagai Keynote Speaker.

Dalam seminar tersebut, sejumlah pokok penting disampaikan kepada para peserta, terutama berkaitan dengan panggilan Orang Muda Katolik di tengah perkembangan zaman, tantangan dunia digital, serta pentingnya menjaga martabat manusia. Secara khusus, Rm. Patris berbicara tentang iman dan akal budi, serta perannya dalam dunia digital saat ini. Ia menegaskan bahwa iman dan akal budi harus berjalan bersama agar orang muda tidak mudah hanyut dalam arus informasi, manipulasi, dan budaya digital yang sering bergerak tanpa arah moral.
Sementara itu, Rm. Paschalis Saturnus, Pr, pegiat isu human trafficking, menyoroti bahaya perdagangan orang yang kini hadir dengan wajah baru. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa kejahatan berkembang lebih cepat daripada kesadaran kita. Hal ini dikatakannya berdasarkan pengalaman dan penilaiannya terhadap pemanfaatan dunia digital untuk melancarkan tindakan human trafficking.
Menurut Rm. Paschal, perdagangan orang pada masa kini tidak lagi selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik, penculikan, penyekapan, atau pemaksaan secara langsung. Kejahatan itu telah berubah wajah.
Jika dahulu orang diculik dengan kekerasan, sekarang banyak korban justru datang sendiri karena percaya, karena membutuhkan uang, karena jatuh cinta, karena ingin sukses, atau karena ingin viral. Dalam situasi seperti ini, korban tidak selalu merasa sedang dipaksa, tetapi perlahan-lahan dimanipulasi.
Ia mengingatkan bahwa perdagangan orang hari ini dapat masuk melalui hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan orang muda, seperti chat, link, QR code, love bombing, pinjaman online, game online atau live streaming, dan lowongan kerja. Semua itu tampak biasa, bahkan sering terlihat menarik, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi tindakan manipulatif. Sebuah pesan singkat bisa menjadi awal jebakan. Sebuah tautan bisa membuka ruang eksploitasi. Sebuah tawaran kerja bisa berubah menjadi perangkap. Bahkan relasi asmara yang tampak penuh perhatian dapat berubah menjadi bentuk penguasaan dan manipulasi.
Dalam konteks itu, Rm. Christian menegaskan bahwa dunia kini sudah semakin cair. Batas antara offline dan online tidak lagi mudah dipisahkan. Teman dapat berubah menjadi predator. Pacar dapat berubah menjadi pelaku. Kerja dapat disamarkan sebagai liburan. Game dapat berubah menjadi ruang eksploitasi. Karena itu, Orang Muda Katolik tidak boleh naif, tetapi harus memiliki kewaspadaan, daya kritis, keberanian untuk bertanya, dan kemampuan membedakan mana tawaran yang benar dan mana jebakan yang merendahkan martabat manusia.
Di hadapan para peserta Nusra Youth Day III, Rm. Christian juga menyoroti empat tantangan besar yang perlu dihadapi bersama, yakni banalitas kejahatan, kejahatan negara, sikap acuh tak acuh, dan kelelahan moral. Keempat hal ini menjadi tantangan serius karena dapat membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap penderitaan sesama. Kejahatan bisa dianggap biasa, korban bisa diabaikan, dan hati nurani bisa menjadi lelah untuk melawan.
Pesan utama yang disampaikan dalam seminar itu sangat kuat: “You are not for sale.” Engkau tidak untuk dijual. Martabat manusia tidak boleh ditukar dengan uang, popularitas, relasi palsu, janji kerja, atau impian yang menipu. Perdagangan orang bukan sekadar isu hukum, melainkan pertanyaan serius tentang siapa manusia dan bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.
Dalam terang iman Katolik, manusia bukan barang dan tidak boleh dijadikan komoditas. Setiap pribadi adalah citra Allah yang memiliki martabat luhur. Karena itu, seminar ini menjadi ajakan bagi OMK untuk menjaga diri, menjaga sesama, dan membangun budaya saling melindungi di tengah dunia yang semakin cepat berubah.
Melalui seminar di Aula Ritapiret ini, para peserta Nusra Youth Day III diajak untuk menjadi orang muda yang beriman, berpikir kritis, tangguh, dan peduli. Di tengah dunia digital yang menawarkan banyak kemudahan sekaligus ancaman, OMK dipanggil untuk tidak kehilangan arah moral. Sebab, kejahatan hanya dapat dilawan ketika hati nurani tetap hidup, iman menjadi terang, akal budi digunakan secara bijaksana, dan persaudaraan diwujudkan dalam tindakan nyata untuk saling menjaga.
Oleh Yudel Neno