
Refleksi NYD III – KomisiKepemudaanKA.com – Menjadi Muda adalah Kesempatan untuk Bertumbuh Iman adalah Akarnya – oleh Paula Petryayu Koa – Peserta NYD III asal Keuskupan Atambua

Iman adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Ada kalanya iman kita begitu kuat, tetapi ada juga saat ketika doa terasa hampa, pelayanan melelahkan, dan Tuhan seolah diam. Namun justru dalam perjalanan itulah akar iman sedang bertumbuh. Iman yang berakar lahir dari relasi yang akrab dengan Tuhan. Relasi itu dipupuk melalui doa yang tulus, Sabda Tuhan yang direnungkan, Ekaristi yang dihayati, dan kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Semakin kita mengenal Yesus, semakin kita memahami bahwa mengikuti-Nya bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah sukacita.

Iman yang mendalam juga mengubah cara kita memandang hidup. Kita tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang aku inginkan?” tetapi mulai bertanya, “Apa yang Tuhan kehendaki dalam hidupku?” Dari sanalah lahir keberanian untuk memilih yang benar, mengampuni yang melukai, tetap setia dalam pelayanan, dan berharap ketika jalan terasa gelap.

Namun iman tidak boleh berhenti hanya menjadi pengalaman pribadi. Iman harus terus bertumbuh dan menghasilkan buah. Orang muda dipanggil menjadi saksi Kristus di mana pun berada. Dunia membutuhkan orang muda yang bukan hanya pandai berbicara tentang iman, tetapi menghadirkan kasih Kristus melalui perkataan, sikap, dan tindakan.
Menjadi muda adalah sebuah perjalanan yang indah sekaligus penuh tantangan. Kita ingin diterima, dicintai, dihargai, dan menemukan seseorang atau komunitas yang membuat kita merasa berarti. Tidak sedikit orang muda rela melakukan apa saja demi mendapatkan pengakuan, bahkan terkadang tanpa sadar menjauh dari Tuhan.
Masa muda adalah anugerah yang penuh dengan kesempatan untuk bertumbuh, belajar, dan menemukan jati diri. Di masa ini, kita menjalin banyak relasi dengan keluarga, sahabat, komunitas, dan bahkan mulai mengenal sosok yang mungkin menjadi pendamping hidup. Namun, di tengah berbagai relasi tersebut, ada satu relasi yang tidak boleh diabaikan, yaitu relasi dengan Yesus Kristus.
Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak pilihan, Yesus datang dengan sebuah ajakan yang sederhana namun mendalam, “Ikutlah Aku.” Ajakan itu bukan sekadar mengubah arah langkah kita, tetapi mengubah cara kita memandang hidup. Yesus tidak pernah menjanjikan jalan yang selalu mudah, tetapi Ia berjanji akan selalu berjalan bersama kita.
Relasi yang paling penting dalam hidup tidak hanya dibangun dengan komunikasi yang baik, tetapi juga dengan kasih, kepercayaan, dan kesetiaan. Relasi yang paling berharga adalah ketika hati kita mengenal Yesus secara pribadi. Sebab ketika kita dekat dengan-Nya, kita belajar mengasihi tanpa syarat, mengampuni tanpa batas, dan tetap berharap meski keadaan tidak selalu sesuai keinginan.
Merawat iman bukan berarti hidup tanpa tantangan. Iman juga tidak bertumbuh dengan sendirinya. Ada saat-saat kita merasa lelah, kecewa, bahkan mempertanyakan kehadiran Tuhan. Namun justru pada saat-saat itulah Yesus tidak pernah meninggalkan kita.
Ketika Yesus menjadi pusat hidup, setiap relasi yang kita bangun akan dipenuhi kasih, setiap keputusan akan diarahkan pada kebaikan, dan setiap langkah akan membawa kita semakin dekat kepada panggilan hidup yang Tuhan kehendaki.
Kesetiaan kepada Yesus bukan dibuktikan dengan kata-kata, tetapi melalui keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.
Kiranya masa muda yang kita miliki tidak hanya menjadi masa untuk mengejar impian, tetapi juga menjadi masa untuk semakin mengenal Tuhan, merawat iman dengan setia, dan mengikuti Yesus dengan sepenuh hati. Sebab ketika masa muda dipersembahkan kepada Kristus, hidup kita tidak hanya menjadi berarti bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi banyak orang.
Masa muda menemukan relasi, merawat iman, dan setia mengikut Yesus. Maumere Manise. inilah kalimat indah yang memaknai perjalanan masa mudaku ketika menapaki bumi nian tanah Sikka. Di tanah ini, jejak-jejak iman Katolik tidak hanya tinggal dalam cerita tetapi benar-benar hidup dan terjaga.
Ketika pertama kali kakiku menapaki tempat ini, hatiku penuh dengan kegembiraan. Tanah Maumere bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga karena kehidupan iman umat yang begitu hidup dan sederhana.
Di sana kita belajar bahwa iman tidak selalu diukur dari kemegahan gereja atau banyaknya kata-kata dalam doa. Iman tampak dalam kesetiaan umat yang tetap datang beribadah, dalam keluarga yang tekun mengajarkan doa kepada anak-anaknya, dan dalam semangat melayani dengan sukacita meskipun hidup penuh keterbatasan.
Nusra Youth Day III di Maumere bukan sekadar sebuah pertemuan akbar orang muda Katolik dari Nusa Tenggara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengalaman iman yang mempertemukan hati, menyatukan langkah, dan menyalakan kembali semangat untuk berkarya bagi Gereja dan masyarakat.
Ini adalah peziarahan rohani—sebuah perjalanan hati untuk mengalami kasih Tuhan, menemukan kembali panggilan hidup, dan pulang dengan semangat baru untuk menjadi saksi Kristus.
Selama beberapa hari, kita meninggalkan rutinitas, kenyamanan, dan kesibukan sehari-hari. Kita berjalan bersama, berdoa bersama, bernyanyi bersama, dan merayakan Ekaristi bersama. Dalam setiap perjumpaan, kita menyadari bahwa Tuhan hadir melalui wajah-wajah baru yang kita kenal, melalui persahabatan yang terjalin, dan melalui setiap pengalaman yang memperkaya iman kita.
Ketika kita berziarah ke tempat-tempat penuh makna, seperti Bukit Nilo yang menghadirkan kasih keibuan Bunda Maria dan Gereja Santo Ignatius Loyola di Sikka yang menjadi saksi sejarah pewartaan iman di Flores, kita diingatkan bahwa iman yang kita miliki hari ini adalah warisan yang dijaga dengan pengorbanan dan kesetiaan oleh generasi sebelum kita. Kini, giliran kita untuk menjaga api iman itu agar tetap menyala bagi generasi berikutnya.
Peziarahan ini juga mengajarkan bahwa menjadi orang muda Katolik bukan berarti bebas dari tantangan. Justru di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak godaan, kita dipanggil untuk tetap berakar dalam Kristus. Di Maumere, kita belajar bahwa iman bukan sekadar identitas, tetapi cara hidup. Iman harus tampak dalam keberanian mengampuni, kesediaan melayani, kepedulian terhadap sesama, dan kesetiaan mengikuti Yesus setiap hari.
Sebagai orang muda, kita sering dipandang sebagai generasi penerus. Namun melalui Nusra Youth Day, kita diingatkan bahwa kita bukan hanya Gereja masa depan, tetapi juga Gereja masa kini.
Dunia membutuhkan orang muda yang tidak takut menjadi terang, yang berani menjadi pembawa damai, dan yang tetap setia pada nilai-nilai Injil di tengah tantangan zaman.
Kiranya Nusra Youth Day III menjadi titik awal perjalanan baru. Semoga semangat Nusra Youth Day III terus hidup dalam diri kita. Kiranya Roh Kudus menguatkan langkah kita untuk menjadi orang muda yang beriman, berakar dalam Kristus, peduli terhadap sesama, dan tanpa lelah berkarya demi kemuliaan Allah.
Semoga kita pulang bukan hanya membawa kenangan indah tentang Maumere, tetapi juga membawa komitmen untuk hidup lebih baik, lebih peduli, lebih rendah hati, dan lebih setia mengikuti Yesus. Menjadi orang muda yang berani bermimpi bersama Tuhan, membangun persaudaraan, dan menjadi terang di tengah dunia.
Editor – Yudel Neno, Pr